Sudah puluhan bibit yang aku semai mati setelah di tanam di media hidroponik ala aku. Tapi juga ada puluhan bibit yang tumbuh. Diantara yang tumbuh itupun tak semuanya berhasil dengan sukses. Ada yang buntet/kerdil, ada yang kutilang, ada yang kurang gizi.. Tapi ada juga yang tumbuh subur dan bahkan kini telah berbuah!
Yup, pertengahan september lalu, tepatnya sekitar tanggal 17 September 2013 aku membaca tentang artikel hidroponik. Awalnya aku melihat foto vertikultur yang keren-keren, lalu tertarik membaca artikelnya lebih lanjut. Aku bahkan bergabung dengan beberapa grup yang membahas hidroponik.
Lambat laun pengetahuanku tentang tata cara tanam selain menggunakan tanah juga semakin bertambah. Aku tahu ada banyak cara untuk menanam selain di kebun atau di pot dengan media tanah. Salah satunya dengan hidroponik sistem sumbu atau bahasa asingnya sistem wick (kalau gak salah inget).
![]() |
| hidroponik sistem sumbu menggunakan botol bekas |
Aku tertarik dengan hidroponik, khususnya sistem sumbu ini, sangat tertarik! Karena hidroponik menjawab keluhanku tentang sulitnya mencari tanah untuk menanam dan sistem sumbunya yang murah, ramah dengan isi dompetku.
Dengan hidroponik, penggunaan media tanah bisa dihilangkan. Kemudian menggantinya dengan media lain, bahkan bisa jadi tidak perlu media apapun lagi selain air. Yup, dalam hidroponik, sesuai dengan kata dasarnya 'hydro' bahan utamanya adalah air. Unsur2 hara yang di perlukan tanaman dilarutkan dalam air yang kemudian di serap oleh tanaman.
![]() |
| Percobaan Pertama |
Percobaan pertama, aku menggunakan gelas kertas ukuran kecil sebagai tempat media tanam serta gelas plastik bekas Aqua-dkk sebagai tempat penyimpanan airnya. Media tanam yang aku pakai adalah serbuk gergaji limbah jamur yang banyak terdapat dirumahku.
Awalnya aku menyemai cabe, cengek dan sebangsanya di tanah, setelah muncul dua helai daun dan terlihat agak besar, baru aku pindah ke pot-hidro (sebutanku untuk media tanam hidroponik).
Untuk sumbunya, aku menggunakan potongan kain dari baju bekas yang ujungnya aku gundukkan di media tanam dalam gelas kertas. Ujung lain dari kain sumbu itu aku keluarkan lewat lubang yang kubuat di dasar gelas kertas dan direndam di air nutrisi yang berada di gelas plastik yang ku pasang dibawah gelas kertas itu. Namun karna tak punya pupuk, jadilah hanya air putih saja yang aku tuang ke tempat air nutrisinya..
Aku pikir kegagalan tersebut karena tak ada pupuk dalam airnya. Jadi tanaman tak punya nutrisi yang cukup untuk diserap (dimakan) agar tumbuh besar. Aku membayangkan jika aku tak makan selama sebulan, pastilah akupun akan layu (kurus) dan mati.
Akhirnya aku membuat pupuk kompos cair sendiri, dan media tanamnya aku beri tanah sepertiga bagian. Namun tempat medianya tak ku rubah, masih memakai gelas kertas (tempat media tanam) yang di pasang di bawah gelas plastik (tempat air nutrisi) dengan sumbu yang menghubungkan keduanya.
![]() |
| Pecobaan Kedua |
Percobaan kedua yang awalnya melibatkan lebih sedikit tanaman lebih berhasil. Setidaknya tidak mati sebelum berkembang. Jadi aku menambah jumlah tanaman. Karena keterbatasan bahan dan tempat aku memadukannya degan vertikultur hingga menjadi seperti gambar di samping.
Media tanam yang kini berupa campuran serbuk gergaji, sedikit tanah, dan pasir di taruh dalam gelas plastik bekas minuman; sedang air nutrisi di tuang kedalam botol yang telah dilubangi. Ternyata yang aku perlakukan seperti ini tumbuh lebih baik daripada yang digelas.
Saat itu aku belum tahu mengapa, tapi belakangan aku tahu itu karena udara! Akar tanaman juga butuh oksigen. Gelas tempat air nutrisi dalam percobaan pertama, penuh dan tertutup sempurna oleh gelas kertas. Akibatnya sama sekali tak ada tempat untuk udara.
Sedangkan gelas yang di taruh di botol, beberapa bagian terbuka hingga memungkinkan adanya pertukaran udara didalam tempat air nutrisi. Untuk menghindari tumbuhnya lumut di tempat air nutrisi, tempat airnya ku bungkus plastik hitam.
Percobaan kedua cukup berhasil memang, tapi tetap saja tanaman yang ku tanam di dalam pot tanah lebih tumbuh subur. Jauh lebih menyenangkan untuk dipandang. Sedang tanaman yang ku tanam di pot-hidro, walau tidak mati tetap saja terlihat kerdil menyedihkan.
Dari ebook2 yang kubaca mengenai hidroponik, tanaman, dan
nutrisinya, aku putuskan untuk membeli pupuk NPK
dan gandasil B dan D. Aku rasa mereka kerdil karna nutrisi yang aku beri
masih kurang. Dengan niat kuat aku mencari-cari toko
pertanian, dan akhirnya menemukan sebuat toko pupuk di tengah kota.
Aku membeli pupuk NPK sekilo seharga Rp.15.000 (yg ternyata mahal, mungkin karena tak bersubsidi). Gandasil B dan D masing2 harganya Rp.10.000. Karena uang yang kubawa tak cukup aku hanya membeli pupuk NPK saja. :(
Setelah pemberian pupuk NPK, tanaman dalam pot2 hidroku terlihat tumbuh lebih baik. Seminggu kemudian setelah aku membeli gandasil B, mereka terlihat benar2 subuuurrr.... J
NPK menyediakan pupuk makro yang di butuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman, sedang gandasil memberikan pupuk mikronya;.Ditambah pupuk kompos cair buatanku sendiri menambah kaya unsur makanan yang di sediakan untuk tanaman2ku.
Pertumbuhan terlihat sangat pesat setelah akar tanaman berhasil keluar cangkang (pot media tanam) dan menyerap langsung air nutrisi tanpa melalui sumbu. Aku pastikan ada ruang kering antara akar dan air nitrisi, agar akar tanaman tidak busuk. Akhirnya tanaman yang ku tanam dalam pot tanah kalah subur.. hahahaha..
Belakangan aku sadar juga, bahwa intensitas sinar matahari yang diterima tanaman sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Saat awal percobaan aku menyimpan bibit2 cabeku di dalam rumah, dengan sinar redup yang hanya lewat dari jendela. Itu salah satu faktor kuat yang membuat cabe2 pada percobaan pertamaku mati, selain karna nutrisi tentunya..
Sampai sekarang aku masih memakai sistem sumbu, dengan berupa-rupa tempat media dan air nutrisi sesuai bahan yang ada. Media tanamnya masih berupa campuran serbuk gergaji limbah jamur, pasir dan sedikit tanah yang aku culik dari pinggir kebun orang :P
Hujan muncul membasahi udara yang kering, bersamaan dengan munculnya bunga-bunga yang kemudian menjadi buah tomat, cabe, melon ataupun semangka yang kutanam bulan lalu. Tak sabar menunggu mereka besar dan matang awal tahun nanti.. ^_^
do not pray for an easy live, pray to be a strong person!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar