
Aku bingung memulainya dari mana, tulisan ini niatnya curahan hati, isi otak dan hatiku yang tak pernah kuceritakan. Karna tak tahu juga musti bercerita pada siapa dan untuk apa juga bercerita. Heuheu..
Setahun yang lalu, Des 2012, aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang bergaji lumayan untuk ukuranku. Alasannya klise, karna aku merasa sangat tertekan dan tidak nyaman dengan pekerjaanku. Walau pada orang tuaku ku katakan jam kerjaku terlalu padat dan tak sebanding dengan gajiku.
Aku tidak gila uang-harta atau malas, hanya butuh alasan logis yang bisa dengan mudah diterima. Toh memang jam mengajarku benar2 padat.. Hingga sekarang genap satu tahun aku menjadi pengangguran yang tak bosan mencoba menjadi pengusaha muda.
Sebenernya aku ini seorang pekerja keras, bahkan cenderung
workholic diwaktu-waktu tertentu. Terbukti belakangan ini, ketika telah mantap menemukan usaha
yang kusukai.
Aku benar2 sebal jika waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku harus terpotong. Aku kadang merasa kesal pada daya tahan tubuhku yang semakin lama rasanya semakin menurun. Aku juga kesal pada mataku yang mengantuk. Aku kesal pada waktu yang berjalan cepat. Aku kesal jika harus menghabiskan waktu produktif untuk bersenang-senang.
Tapi aku yang sekarang selain menyukai malam, juga sangat menunggu kedatangan pagi. Sesaat sebelum tidur dan ketika bangun, segudang rencana berkeliaran dalam otakku.
Menunggu untuk segera dilaksanakan. Aku yang sekarang bahkan bisa kesal ketika malam tiba. Padahal
setahun lalu sewaktu aku masih menjadi pegawai, malam adalah waktu yang sangat
kutunggu. Tidak ingin pagi itu datang lagi dan menarikku keluar dari kasur
untuk kembali mengajar. Bahkan aku berharap bisa mati lebih cepat, karna terlalu lelah
dengan kehidupan.
Yah, intinya aku yang sekarang jauh lebih bahagia dan menikmati hidup. Bukan karena aku punya uang banyak atau karena aku bisa bermalas-malasan atau bahkan karena tak ada tekanan. Justru tekanan yang kudapat semakin berat terutama dari orang tua, yang merasa bahwa aku harus bekerja dan tak menyia-nyiakan ijazahku.
Padahal aku juga sedang
berusaha, yang artinya bekerja juga. Memang sih sekarang pendapatanku jauh
dibawah gajiku terdahulu, tapi itu cukup untukku. Sudah cukup dua tahun bekerja
untuk orangtuaku, ini waktuku menikmati hidup yang ku mau pikirku selalu untuk
menetralisir tekanan.
Bahkan belakangan jika tekanan yang mereka berikan kupandang berat, aku bisa dengan mudah menganggap mereka tidak ada. Tapi memang sejak kecil aku memang tidak pernah perduli pendapat orang deng! :p
Akh ya, aku sebenarnya mau cerita soal usahaku. Aku sekarang sedang hobi menanam. Diawali dengan usaha jamur tiram, yang inginnya nanti akan ku kembangkan menjadi produk olahan makanan ringan.
Lalu sekarang tepatnya dua bulan berjalan, merambah pada tanaman sayur secara hidroponik. Entah apa awalnya aku tak ingat, kurasa aku tertarik melihat vertikal garden lalu banyak membaca dan akhirnya bertemulah dengan hidroponik.
Sudah banyak tanaman yang gagal berkembang selama dua bulan ini, tapi ada pula tanaman yang berhasil dan telah berbuah. Trial and error, itu cara belajarku.
Telah seminggu ini aku mulai menanam amat banyak tomat dan cabe, karena aku sudah merasa menemukan racikan hidroponik yang pas untuk tanaman-tanaman itu. Sebagai media aku menggunakan limbah baglog jamur, dan memang sebenarnya karena tak punya tanah dan ingin memanfaatkan limbah jamurlah aku jadinya beralih pada hidroponik.
Tanaman, memang sangat jauh dari bidang pendidikan yang ku geluti selama lima tahun ini. Sia-siakah pendidikanku? Hm.. Mungkin, tapi kurasa tak sepenuhnya benar. Aku hanya sedang bosan dan muak dengan elektro, karena banyak hal yang ingin kupelajari tapi aku tidak mampu. Butuh banyak biaya atau setidaknya sarana yang mahal untuk bisa melakukan percobaan, dan aku tak memilikinya.
Lagipula aku memang suka tanam menanam sejak kecil, bahkan saat lulus sma guruku menawariku untuk mencoba program beasiswa di IPB, yang katanya pasti diterima. Tapi sayangnya(?) Aku menolak dan memilih tetap menempuh pendidikan disini saja. Di kota tercintaku, Bandung. Tapi aku tak menyesal kok! :p

Selain itu, sebenarnya putusanku juga karna terdorong minatku mengamati situasi politik-negaraku indonesia. Menurutku, pangan di indonesia sudah semakin terancam. Lihat saja, orang tua yang adalah petani anak2nya cenderung lebih memilih menjadi buruh di pabrik dan menjual tanah2nya dibanding meneruskan jadi petani.
Mengapa? Karena petani kecil identik dengan kemiskinan. Usaha pemerintah bagi bidang pertanian dan perikanan tak terlihat nyata-jelas. Pupuk saja mahal. Padahal program pemerintahlah yang membuat petani tradisional dulu beralih menggunakan pupuk kimia dan pestisida hingga kini menjadi terbiasa dan tergantung.
Aku tak setuju dengan usaha pemerintah yang malah mengedepankan agar indonesia menjadi negara industri (berkembang istilah yang dipakai sejak puluhan tahun lalu mah). Alih-alih memajukan usaha peningkatan produksi pertanian - peternakan dan meningkatkan taraf hidup petani-nelayan.
Padahal perairan indonesia sangat kaya dan tanah serta iklim di indonesia sangat subur, tak perlu rumah kaca atau pupuk buatan pabrik untuk bisa menghasilkan tanaman yang baik. Yang perlu dilakukan hanya riset yang benar dan kontinyu.
Untuk selanjutnya dilatihkan kepada petani agar mendapat bibit unggul serta tata cara bertanam yang efektif dan efisien. Juga cara memanfaatkan limbah untuk pupuk yang baik. Yah, riset disini memgang peranan penting menurutku, setelah itu tentu pelatihan dan dukungan!

Jika ditanya apa kelebihan Indonesia, menurutku adalah keanekaragaman dan kekayaan SDAnya. Kalau menurut pendapat orang bisnis, yang juga aku terapkan pada hidupku sejak kecil, lebih baik berusaha meningkatkan kekuatan dari pada memperbaiki kelemahan.
Di ilustrasi yang pernah kubaca, ini ibarat nilai. Misalkan kekuatan bernilai 7 dan kelemahan bernilai 5; jadi proporsinya 7-5. Jika usaha yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kelemahan maka proporsinya jadi 7-7, tapi jika untuk meningkatkan kekuatan maka proporsinya jadi 9-5.
Artinya jika kelemahan yang di tingkatkan maka kita hanya akan jadi orang biasa-biasa saja. Akan ada banyak 'orang biasa' lain yang bisa menyaingi kita. Tapi jika kekuatan yang di tingkatkan, berarti kita punya satu kekuatan yang akan sulit di saingi oleh orang lain . Sedangkan kelemahannya bisa ditutup dengan menyewa bantuan orang lain.
Hal itu relevan juga dengan kekuatan dan kelemahan negara kupikir. Tingkatkan pertanian dan perikanan, sehingga bukan hanya menjadi swasembada pangan namun juga pengimpor terbesar bahan pangan ke negara lain.
Lakukan riset besar-mendalam dan kontinyu agar menghasilkan produk yang kualitasnya tak dapat disaingi iklim dan tanah negara lain, maka negara kita punya kelebihan-kuasa dalam satu bidang ini, Bidang yang sebenarnya sangat riskan dan berkuasa, karna menyangkut kebutuhan utama manusia.
Sedang bidang lain, seperti alat-alat perang, transportasi dan komunikasi? Beli saja dari luar! Harganya mahal? Jual saja produk kita dengan harga lebih mahal. Bagaimanapun akan selalu ada pembeli yang mementingkan kualitas daripada kuantitas.
Toh sekarangpun begitu, hampir semua barang elektronik yang laku dipasaran indonesia adalah buatan luar, walau sudah puluhan tahun menjadi 'negara berkembang'. Minyak dan barang tambang lainpun masih dikerjakan pihak asing malan. :(
Yah, itu pemikiranku.. Tapi aku yakin ini bukan hanya pemikiranku semata, karena beberapa hari lalu aku sempet baca sekilas tentang adanya ide reformasi agraris. Belum sempet baca lebih banyak sih, dan memang belum minat. Tapi dengan begitu aku tau pemikiranku bukan hanya pemikiran seketika yang tak berdasar.. Semoga...
------------------------------------------------------------------------------------
do not pray for an easy live, pray to be a strong person!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar