Ketika

Satu ketika seorang 'jahat' membunuh dan merusak masa depan banyak manusia lain, yang jika ditelusuri sebenarnya akibat 'dunia' dan 'pengajaran yang salah' yang dijalani dan diterimanya. Kemudian dia membentuk sekutu dengan banyak orang yang memiliki pemahaman sama dengannya dan melakukan kejahatan yang lebih luas. 

Di sisi lain seorang 'benar' dan orang2 yg sepaham dengannya membentuk kelompok. Kelompok tersebut merasa wajib (bukan hanya berhak) untuk menghukum si 'jahat' dan komplotannya. Penghukuman yang berakhir dengan kematian si'jahat' dan kelompoknya. Termasuk juga semua yang tersangkut paut dengan 'si jahat' agar 'kejahatan' habis tuntas terputus disitu saja.

Itukah kebenaran? Itukah keadilan?
Apakah membunuh dan menghancurkan masa depan orang 'jahat' bukan kejahatan?

Satu ketika seorang 'miskin' mencuri hal yang tak seberapa dari pemilik yang kaya, kemudian dilaporkan sang pemilik ke pengadilan. Si pemilik dihujat massa, si 'miskin' dibela dan kesalahannya di maklumi akibat kemiskinannya. 

Si miskin yang mencuri tetap di hukum dengan hukuman penggantian ringan, yang segera terlunasi dari bantuan yang diberikan orang2 yang 'peduli'. Si 'miskin' juga mendapatkan banyak pernyataan simpati dan pertolongan dari massa. 

Disisi lain, si 'kaya' yang kecurian mendapat ganti rugi atas benda yang hilang dicuri. Tapi juga mendapatkan banyak cemoohan dan tudingan massa yang 'berbudi' . Massa yang menganggap si 'kaya' tidak punya hati karna tega menuntut 'si miskin'.

Di satu ketika yang lain, seorang 'kaya' yang mencuri hal tak seberapa dari pemilik yang 'miskin'. Kemudian pemilik yang miskin melaporkannya. 

Si 'kaya' yang kedapatan mencuri di hujat massa secara besar2an. Dianggap tak punya otak dan hati sebab tega mencuri dari orang yang pada dasarnya tak punya apa-apa. 

Disisi lain, si 'miskin' yang kecurian mendapat simpati, dukungan moril juga bebebrapa pertolongan dari massa yang 'peduli'. 

Si 'kaya' yang mencuri di hukum dengan hukuman penggantian, yang dapat dengan mudah di lunasinya sendiri. Namun juga mendapat kecaman moril yang berkepanjangan. 
Si 'miskin' yang kehilangan mendapatkan penggantian, juga dukungan moril dan pertolongan dari massa yang 'berbudi'.

Itukah kebenaran? Itukan keadilan?

Si 'miskin' selalu mendapatkan belas kasihan karena kemiskinannya. 
Berbeda dengan si 'kaya' yang dirasa tidak perlu dikasihani. 
Tanpa mempertimbangan bahwa mungkin si 'miskin' menjadi miskin karena kemalasan dan kebodohannya, sedang si 'kaya' menjadi kaya karena kerja keras dan kerja cerdasnya.

Akhir kata,
Pikir lagi...

Dengan logika, bukan emosi.


10 Oktober 2016
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
do not pray for an easy live, pray to be a strong person!

2 komentar: