Sabtu
(12/10/13) kemaren di gramed, aku baca buku yang gak aku inget judul apalagi
pengarangnya. Tapi isinya bagus banget! Aq baca dari halaman pertama dan gak
bisa berhenti baca sampai halaman terakhir (untung aja dan karna memang bukunya
tipis, buku sebesar buku diary setebal 135 halaman dengan ukuran huruf seperti
buku anak-anak).
Isinya
tentang analogi puncak dan lembah dalam kehidupan. Aku gak terlalu ingat jalan
cerita teraturnya, dan mungkin ada banyak yang terlupakan, tapi mau di coba di
tulis biar gak benar2 lupa. Sepertinya agak berantakan,, tp yang penting
intinya dapet lah..
Nyesel
berat gak nulis point2nya di notes..
***
Cerita
diawali dengan seorang pemuda yang lelah dengan lembah, tempatnya menjalani
hidupnya dari lahir hingga hari itu. Ia melihat puncak itu tampak menyenangkan.
Namun menurut orang2 di sekitarnya, sangat sulit dan berbahaya untuk menuju ke
puncak; lebih baik tidak kesana. Tapi semakin hari dia semakin tertarik
mencoba, dan akhirnya dilakukannya.
Memang
benar perjalanannya sulit, dan melelahkan. Berkali-kali dia ingin menyerah,
tapi dia terus berjalan, dan berharap sampai di puncak tepat waktu sehingga
dapat melihat sunset. Tapi karena sulitnya perjalanan, dia sampai di puncak
ketika malam sudah datang. Dia merasa kecewa karenanya.
Dia
langsung rebah, dan tak menyadari kehadiran kakek tua di dekatnya sampai kakek
itu menyapanya. Dengan kecewa pemuda itu berkata "aku terlambat datang,
sehingga tidak bisa melihat sunset". Tapi kekek itu bertanya, “Bagaimana
dengan pemandangan disini?”
Pemuda
itu bingung karena yang dilihatnya sejauh mata memandang hanya kegelapan. Kakek
itu menunjuk ke langit, lalu pemuda itupun menyadari bahwa bintang2 dilangit
terlihat lebih jelas-terang dan indah disini dibanding di lembahnya. “Yah,
benar cantik sekali! Saya tidak menyadarinya..” sahut pemuda itu.
Lalu
pemuda itu mulai menceritakan betapa tertekan dan lelahnya kehidupannya di
lembah, dan mengatakan betapa beruntungnya kakek itu berada di puncak sini.
Kehidupannya tidak baik di bawah sana, baik karier maupun cintanya. Sangat
sulit mendapatkan pekerjaan, juga mempertahankannya.
“Semua
orang tahu lembah dan puncak dipisahkan oleh jurang yang terjal dan berbahaya,
lihat saja.” sahut kakek itu. Lalu pemuda itu melihat dan berkata, “Tapi aku tidak
melihat jurang dari sini”.
“Kenapa
tak terlihat?” tanya kakek.
“Karna
memang tidak ada!” Sahut pemuda itu.
Puncak
dan lembah itu menyatu, merupakan sebuah alur.
Dimanakan
titik terrendah puncak berawal?
Atau
dimanakah titik tertinggi lembah itu berakhir?
Lembah
adalah awal dari puncak, dan masa
kemudian dari puncak adalah lembah.
Apa
yang kamu lalukan di lembah menentukan seperti apa puncakmu, dan apa yang kamu
lakukan di puncak menentukan seperti apa lembahmu, juga berapa lama kamu
bertahan dititik itu.
Kamu
bisa berada di puncak setiap saat, sebab puncak dan lembah bukan mengenai
kondisimu, tapi perasaan-pikiranmu. Ketika kamu mencapai apa yang kamu inginkan
tapi tidak bahagia, itu bukan puncakmu. Sama seperti pemuda itu yang seharusnya
merayakan keberhasilan mencapai puncak gunung, malah berkeluh karena melewatkan
sunset hingga tidak menyadari adanya kerlip bintang di langit yang indah.
Pemuda itu seharusnya berada di puncak, tapi malah menjatuhkan diri ke lembah.
Begitupula
sebaliknya, mindset. Dengan bisa melihat hal yang tersembunyi di lembah
(anggapanku mungkin diatas tingkatan positive thinking), bisa menjadikan lembah
sebagai puncak, setidaknya puncak bayangan lah.. :p
Contohnya, misalnya ketika
kamu di pecat tiba-tiba dari kantormu, kaget dan kecewa itu pasti. Tapi kamu
bisa memilih untuk jadi depresi, atau menemukan sesuatu yang tersembunyi, bahwa
dengan pemecatan itu kamu bisa memulai pekerjaan lain yang jauh lebih baik
buatmu, mungkin saja sebenarnya kamu memang tidak cocok dengan pekerjaan itu.
Pemecatan itu memberimu jalan untuk mencoba sesuatu yang lain. Dengan berfikir
seperti itu, maka lembah bisa menjadi sebuah puncak.
Puncak
adalah ketika kamu bahagia karena mencapai tujuan,
dan
lembah adalah ketika kamu merindukan yang telah terlepas darimu.
(yang
puncak lupa sebenernya, ini agak ngarang)
Pemuda
itu akhirnya turun ke lembah, harus turun karena tidak membawa persiapan yang
baik untuk berada di puncak. Namun dia kembali ke lembah dengan perasaan
berbeda dan berniat akan mempraktekkan ilmu luar biasa dari kakek tua itu.
***
Saat
dilembah kita harus melihat sejeli mungkin, mencari hal-hal tersembunyi dari
lembah, dan menjadikannya aset menuju puncak. Contoh di cerita pemuda itu
adalah setelah dia kembali ke lembah dan mendapat pekerjaan, perusahaan tempat
bekerja mengalami masalah, pelanggan menurun drastis karena seringkali terjadi
kesalahan pengiriman yang dilakukan oleh perusahaan tsbt.
Alih-alih
ikut merasa cemas akan kehilangan
pekerjaan seperti teman-teman lainnya, pemuda itu mempraktekkan ilmu yang di
dapatnya dari kakek di puncak. Ia mencari harta tersembunyi dari kejadian itu.
Ia mendapatkannya, dan memberikan sebuah ide kepada atasannya.
Selagi
perusahaan dalam keadaan seperti itu, sebaiknya dilakukan investigasi terhadap
sistem pengiriman mereka, sehingga di lain waktu perusahaan itu tidak lagi
melakukan kesalahan pengiriman lagi, seperti yang sering mereka lakukan selama
itu. Atasannya setuju, dan memerintahkan sebuah tim yang di kepalai pemuda itu
untuk melakukan investigasi tersebut.
Tim
itu berhasil menemukan akar masalah dalam sistem pengiriman mereka, dan
menemukan sistem pengiriman yang lebih aman bahkan lebih murah dari pada
sebelumnya. Mereka pun memperkenalkan sistem pengiriman mereka yang baru kepada
pelanggan-pelanggan dan dengan harga lebih murah. Sedikit demi sedikit
keercayaan pelanggan kembali pada perusahaan mereka. Pemuda itu mendapatkan
promosi dan kenaikan gaji karenanya.
Dia
tidak puas dan tidak berhenti disitu, ia melihat banyak kekurangan kesalahan
disana sini dalam perusahaan itu, dia melaporkan dan memberi ide2 lain kepada
atasannya, namun atasannya malah memintanya untuk tenang, beristirahat dulu,
bukankah dia baru saja mendapatkan promosi.
Semakin
lama pemuda itu semakin tidak puas dengan apa yang dilihatnya, kekecewaan pada
rekan kerjanya yang tidak bekerja dengan baik, ketidaktelitian, sistem/birokrasi
yang buruk, dan banyak lagi. Dia berbicara tapi tak ada yang mau mengerti, dan
menganggapnya berlebihan. Teman-temannya menyuruhnya beristirahat. Semakin lama
dia semakin jarang dia berinteraksi dengan taman-temannya, kekasih hatinya pun
sudah lama tidak menemuinya.
Suatu
hari teman-temannya mengajaknya ke sebuah dataran untuk bersenang-senang,
setelah menimbang-nimbang, ia pun ikut. Pertama sampai, dia melihat dataran
berbeda dengan puncak atau lembah, tampak gersang dan panas. Dia melihat sebuah
lapang luas ditumbuhi ilalang, dan beberapa pohon pinus di sudut2 lapang.
Dia
merasa sedikit lebih baik dengan perubahan itu, namun semakin lama dia disana,
akhirnya dia malah tenggelam dalam pikirannya sendiri dan menjadi semakin
depresi. Dia melihat kembali puncak yang pernah dia datangi, ia ingin kembali
kesana.
***
Akhirnya
dia kembali kepuncak, kali ini dengan persiapan yang lebih matang agar dapat
bertahan di puncak. Ia bertemu kembali dengan kakek itu, kakek itu merasa sedih
karena pemuda itu datang kembali dengan wajah lebih depresi dari pada
sebelumnya. Ia bertanya pada pemuda itu, mengapa begitu. Pemuda itu
menceritakan semua yang dialaminya di lembah.
Kakek
itu berkata,
Hal
yang membuatmu cepat turun dari puncak ke lembah adalah egomu,
dan
yang menghambatmu move on dari lembah menuju puncak adalah ketakutanmu.
“Rendah
hatilah, dan belajarlah dari lembahmu.” sahut kakek itu. Pemuda itu lalu menceritakan
tentang dataran yang dikunjunginya, betapa ia dapat tenang ketika partama datang,
namun malah menjadi semakin depresi setelah beberapa lama kemudian. Kakek itu
menanyakan bentuk grafik denyut jantung. Seperti itu pula grafik kehidupan, ada
puncak ada lembah, namun juga sesekali ada dataran. Dataran adalah tempat
beristirahat, sejenak.
Ketika
kakek itu mengundangnya kerumahnya di puncak situ, dan mengetahui nama kakek
itu tahulah pemuda itu bahwa kakek itu adalah seorang yang sangat kaya. Ia
ingin mendengarkan kisah kakek itu.
Kakek
itu menceritakan semua yang dialami hingga mencapai puncak itu sekarang. Bahwa
istrinya sakit keras dan ia baru saja keluar dari pekerjaan untuk mengusahakan
perusahaan kecilnya sendiri. Dia sangat mencintai istrinya sehingga tak tega
melihat istrinya bekerja berat di tengah kondisinya yang sakit untuk mengurus
anak-keluarga.
Dia mulai membantu istrinya mengurus anak dan melakukan tugas2
rumah tangga sebelum bekerja. Dia menjadi sangat lelah karenanya. Namun
situasinya tak semakin baik, ia masih saja merasa kasihan karena melihat
istrinya yang sakit itu harus bekerja keras.
Lalu ia berpikir, mengapa ia
melakukan semua itu, jawabnya karna ia sangat mencintai istrinya. Ya, dia
sangat mencintai istrinya, jadi itulah yang seharusnya dilakukannya,
menunjukkan bahwa ia sangat mencintai istrinya itu.
Lalu ia merubah apa yang
dilakukannya, ia mulai melakukan apa yang bisa dilakukannya saat itu agar
istrinya tau bahwa dia sangat mencintainya. Itu berjalan baik, istrinya
terlihat bahagia, karna tahu bahwa suaminya sangat mencintainya. Kakek itupun
tentu saja bahagia karenanya. (kata pepatah, hati yang gembira adalah obat
manjur).
Mendengar
cerita kakek itu, bahwa dia juga mengalami hidup yang sukar, pemuda itu kembali
lebih baik, dan tak lagi depresi. Ia melihat puncak lain yang lebih tinggi dari
puncak itu, ia berkata pada si kakek ingin menuju kesana. Si kakek
mendukungnya, dan mengingatkan untuk fokus pada tujuan apapun yang dihadapi.
Pandanglah segala sesuatu dari situasi sebenar-benarnya.
***
Pemuda
itupun turun ke lembah disisi yang lain, untuk mencapai puncak itu. Perjalanan
terasa jauh lebih sulit dan terjal dari pada sebelumnya. Ia mulai menggerutu
mengapa jalan itu lebih sulit, tapi dia tetap berjalan.
Akhirnya dia sampai di
lembah, dan harus menyebrangi sungai ber-arus deras untuk bisa mencapai puncak
itu. Kakinya telah lelah, dan terluka, dan sungai itu terlihat sangat deras.
Lalu ia membayangkan, bahwa ia bisa saja terseret arus deras itu dan tenggelam
di sungai. Sangat buruk!
Dia menjadi ketakutan, sangat. Ia berpikir untuk
mengurungkan niatnya melanjutkan perjalanan, dan kembali ke puncak sebelumnya.
Semakin ia memikirkan kemungkinan buruknya, ia semakin ketakutan.
Lalu
ia ingat pesan kakek itu, fokus pada tujuan dan lihat situasi sebenar-benarnya.
Ia sadar, bahwa ia sudah menciptakan lembah yang lebih dalam bagi dirinya
sendiri dalam pikirannya. Ketakutanlah yang memperlambatmu berlalu dari lembah
menuju puncak! Ia menciptakan ketakutannya sendiri, padahal keadaan sebenarnya
tidak seperti itu, ia tidak sedang terseret arus.
Ia kembali fokus pada tujuan,
dan melihat situasi sebenar-benarnya yang di hadapi. Ia merentangkan tali, dari
sisi tempatnya berada ke sisi sebrang sungai dan mulai menyebrangi sungai
dengan berpegangan kuat pada tali itu. Perjuangan berat memang, berkali-kali ia
hampir terbawa arus, namun ia berhasil!
Ia
kembali mendaki menuju puncak, sangat berat. Ketika akhirnya sampai di puncak ia telah sangat
kelelahan, kakinya terasa sakit dan tak mampu lagi berdiri. Tapi ia tidak mau
kehilangan momen puncaknya seperti sebelumnya, alih-alih mengeluh, ia merayakan
keberhasilannya sampai di puncak. Ia bahagia.
Setelah
beristirahat, dan siap, ia memutuskan untuk kembali ke lembahnya dengan
perasaan baru. Tapi sebelumnya ia hendak mengunjungi kakek tua itu lebih dulu
untuk berterimakasih dan menceritakan keberhasilannya mencapai puncak ini.
Lalu
ia melihat, bahwa ada jalan pintas yang lebih mudah dan cepat menuju puncak dimana
kakek itu berada. Ia sangat kagum, karena dari puncak ini, dia bisa memandang
jauh lebih luas. Ia juga menyadari bahwa dari lembah semua terlihat lebih sulit
dan sempit dari pada ketika berada di puncak.
Ketika
telah sampai puncak seringkali kita terlena dan tak lagi melakukan terobosan2,
merasa aman dan tetap bejalan di jalur yang biasa. Itu termasuk ego yang
membuat kita cepat turun kembali ke lembah.
Masa puncak seharusnya adalah masa
dimana kita mempersiapkan diri untuk mengantisipasi lembah yang akan kita
hadapi agar tak jatuh terlalu dalam. Karena d puncak kita dapat melihat jauh
lebih luas. Manajemen yang baik di puncak, akan menentukan seperti apa lembah
kita nantinya. Sama seperti tujuan yang kita tetapkan di lembah, yang
menentukan puncak seperti apa yang kita dapatkan.
Kakek
itu mengucapkan selamat akan keberhasilan pemuda itu. Ia melihat bahwa pemuda
itu menjadi lebih rendah hati sekarang, bahwa pemuda itu sudah belajar sesuatu
dari lembah. Pemuda itu berpamitan untuk kembali pulang ke lembahnya, mereka
tidak menyadari bahwa itu adalah pertemuan terakhir mereka.
***
Sampai
di lembah, perusahaan tempatnya bekerja tengah mengalami kendala. Pelangan
berkurang, dan akan ada berusahaan baru bermodal besar yag akan dibuka di
daerah tersebut. Perusahaan itu akan melakukan iklan pengenalan produk secara
besar-besaran, dan mengeluarkan produk dengan harga lebih murah. Para pekerja
di perusahaan tempat pemuda itu bekerja merasa sangat kawatir, karena mereka
tidak akan mampu melakukan kampanye-iklan besar2an juga untuk menyaingi
perusahaan baru itu.
Pemuda
itu melihat dari sudut pandang lain, ia berpikir apa yang tersembunyi. Ia
menemukannya, ia mengusulkan untuk melakukan peningkatan kualitas produk
alih-alih melakukan kampanye-iklan. Biarkan perusahaan baru itu yang melakukan
iklan pengenalan produk secara besar-besaran, lalu kemudian pelanggan akan
melihat bahwa produk mereka lebih berkualitas.
Maka
ia beserta timnya melakukan penelitian, tentang ketidakpuasan pelanggan serta
produk seperti apa yang diinginkan pelanggan. Dan akhirnya ketika perusahaan
baru itu datang, mereka sudah siap dengan produk baru mereka yang lebih
berkualitas.
Perbandingan bahwa produk mereka lebih berkualitas menyebar
diantara pelanggan dari mulut ke mulut dan semakin meluas. Sehingga perusahaan
mereka tidak kehilangan pelanggan, bahkan bertambah. Mereka tidak berhenti
disitu, perusahaan itu terus melakukan peningkatan pelayanan, mempersiapkan
diri untuk mengantisipasi lembah yang akan dihadapi nanti.
Pemuda
itu merasa bahagia dengan pencapaiannya, namun tidak terlena (inilah puncak). Lalu ia mendengar bahwa
kakek di puncak telah tiada, ia merasa bersedih. Ia merindukan kakek itu ketika
mengenang semuanya.
Puncak
adalah ketika kamu bahagia karena telah mencapai tujuanmu.
Lembah
adalah ketika kamu merindukan yang telah terlepas darimu.
~end~
Note:
Ada satu point penting yang kuingat, tapi bingung nulisnya karena lupa
kalimatnya, ngerangkai sendiripun bingung nyari kata yang tepat. Intinya bahwa
puncak dan lembah itu adalah soal cara pandangmu, bukan situasimu. Lagipula
kupikir pasti banyak hal yang terlewat yang tak tertulis. Memang lebih baik baca bukunya langsung,, J
Oktober 2013
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
do not pray for an easy live, pray to be a strong person!
do not pray for an easy live, pray to be a strong person!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar